Elegi Rindu

Suasana syahdu serambi pedesaan saat hujan deras di sawah. Lentera hangat menyala di atas meja kayu dengan kopi, melati, dan buku bertuliskan teks rindu. Sebuah ilustrasi visual dari elegi rindu

Dawn's Awakening

Pagi masih hitam. Riuh kokok pejantan memaksa malam melepas tangannya bersedekap. Berebut menggaduh debu yg lindap terguyur hujan semalam. Dingin dan lembap.

A Serene Soul

Menghitung altokumulus hingga pada bongkahan yg disapa kebisuan pelan-pelan. Kupetik satu yang paling besar mengantonginya di saku baju. Serat-seratnya larut krn panas kuku tubuhq. Resap sampai dingin menyumsum jiwa tenang seharian.

The Departure

Matahari hidup, rizki dilepas, liar bertualang. Kau titip doa pada urat punggung tangan ku. Sendu matamu menembung harga diri kelelakian ku. Kudapati syahdu doa menghangat di sudut matamu. Lesap di bibirku.

The Midday Struggle

Terik di atas kepala membunuh setengah usia. Mengeruk liar petualangan rizki hingga jauh membawa diri. Gadisku rindu di depan pintu, anak kecil bersenda-senda, menumpuk batu dan menjatuhkannya lagi. Sungguh tak terperikan sebongkah rasa yang entah makin membesar. Pikir nelangsa mengingat titipan doa. Cepat kembalikan hati beranjak menemui keharusan diri.

Twilight and Coffee

Hidup tak pernah lebih manis daripada gula, senyummu akan memaniskan hidup. Sepenggal kalimat sakti dari lampau menjadi tonggak ketika kopi makin pahit. Surya beralih jingga datang mega tenang. Hanya gaduh gir peralatan kasar, teman menyesap kopi sesaat senja berpamitan.

The Night's Ascent

Malam mendaki, hasrat tak bersahabat. Desir napas membuncah, tak pelak hati gusar menghitung jarak. Pewaktu lambat rindu menggeliat. Besar asa malam ini dapat mereguk cinta bersama.

I Love You Ummi

Posting Komentar

0 Komentar